Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Melihatmu Disini, Ditepi Keabadian

Ceritamu terlalu pahit untuk kita kenang bersama sebuah angan yang tak akan pernah kumengerti. Baru saja, aku meliahatmu bersamanya. Mungkin kita sama-sama terlahir sebagai manusia yang tak saling mengerti dan memahami. Dari sini, dibalik jendela yang menjadi saksi kepergianmu. Mungkin? Itu adalah sahabat yang dekat. Sedekat senyum yang selalu ada disaat pagi yang hening. Bening. Seperti mata air hujan yang jatuh saat November menangisi kepedihannya. Ingatkah? Tentang cerita semalam? Saat aku mencoba mendekapmu? Tapi tak ada. Dan tiada pernah untuk bisa. Karena aku. Menyayangimu. Dengan sederhana, sesederhana malam yang hadir bersama purnama-purnama. Kehidupan adalah ribuan kebencian yang harus kita kremasi sendiri, dengan abjad-abjad yang kita eja dengan tertatih. Seperih mati yang hampir memugar malam beku yang perlahan menikamku. Aku temukan kekosongan, saat tepat jarum jam menghilangkan ingatannya. Ada kebencian yang menutupi tiap lembaran tidur. Tak bisa lelap. Tak bisa me...

Matahari yang Terbit Dari Matamu

aku sudah membenamkan tubuh pada setiap senja yang kita gelar dari kepedihan. lukamu adalah lukaku yang membening diantara butiran hujan. kita pernah bertemu ditepi musim saat perlahan belantara yang kita temukan terlihat nisbi, sama seperti bayanganmu yang kerap muncul disaat aku merindukanmu dari sini. aku melihat matahari tidak terbit dari timur. tapi terbit dari matamu. sebab, aku telah memutarkan mataangin pagi untuk terbit saat tepat luka membangunkan tidur lelapnya. inikah cahaya yang lahir dari bening tatapanmu itu? ataukah fajar yang masih akan kita titipkan kepada pagi yang menyapa hari. matamu adalah ribuan kerinduan, yang sengaja diciptakan agar aku bisa mengenangmu. itu saja. mungkin kau sedang terlelap saat aku menuliskan lembaran sajak, dari mimpi yang mencipta bayang-bayang. kau ada disisiku, selama senja itu ada. yang tak pernah tiada dalam perjumpaan kita. senja itu. Selasa,  22/11/2011 16:41 PM  

Hujan, Kita Begitu Dekat

                                                : Firsa Lubis siapalagikah yang dapat merapalkan musim? setelah beberapa semu kita petik ranum cuaca dari balik kata-kata. atau kita akan menukarkan hujan dengan hangat tubuh kita dan butiran hujan yang tepat jatuh diantara rimbun dedaun. kita begitu dekat.  seperti tapak hujan yang perlahan menyeka senyummu.  dari sinilah aku  merindukan saat jarak yang kita bentangkan  perlahan mendekat,  sedekat aku dengan hujan. November 2011

Malam Itu Aku Menulis Sajak untuk Ayah

       : my beloved dad Kepada Ayah, yang mengajari kami untuk tetap tegar, dan memaknai hidup dengan kesederhanaan. /1/ Aku tahu Yah, ketika pahit kehidupan menyeret kita jauh, jauh sekali menyayat kalbu. seperti belenggu adalah godam, yang tak henti menggempar amarah di ujung nadiku yang resah. /2/ Yah, kutulis sajak ini, ketika lelehan airmata jatuh dipelupuk mataku. dalam hati yang teriris, sakit. aku tak sanggup mendengar jeritmu, jerit yang mencekik, dari kejamnya kehidupan. seperti amarah tanpa jeda yang tak juga reda. /3/ Ayah, sudah kudengar keluhmu, dilelah tidur malammu yang resah. kau terlelap bersama airmata perih , yang kau tahan ditiap pejam mataangin malam. /4/ Yah, aku masih ingat, dimalam itu kala kita bersama. aku membawa figura, dan kau mengajariku tentang perjuangan itu. /5/ Ayah, yang selalu hadir ditiap perpisahan sekolahku. adalah senyum itu, yang hadir kala getirku ya...

Lentera Terakhir untuk Sahabat

Sepercik air yang kunantikan Tapi hanya butir pasir yang kudapatkan, Dimana senyum yang memanjakan Teringat saat kita bersama Lalui badai nan kelam kita tetap berjalan Dimanakah engkau kini teman Menghilang ditelan malam Tak kunjung datang Dimanakah kau berada Dimanakah ku berada kini? Kurindukan arti dirimu kawan, Saling berbagi Indahnya mimpi kita. Kurindukan arti dirimu kawan, Lalui bersama, Menembus dingin malam. ­­­—Arti Kawan, Pas Band /I/ Prolog Sebuah dimensi pengantar yang kuibaratkan lewat lentera,  adalah lilin-lilin kecil penerang kegelapan, yang dengan tulus menerangi kehidupan ini dengan kebaikan. Lilin yang tidak pernah angkuh ditengah gemerlap kehidupan, yang dengan tegar dari masa-ke masa, menantang badai yang dengan keras menantang hari-harimu, adalah lentera yang tidak pernah berubah memancarkan warna keindahan. Kuantarkan kau, lewat cahaya kesederhanaan yang terpancar  dari  lentera yang kau bawa ...

Surat Kecil untuk Zhang Da

/I/ kita telah lama menyemai syukur pada sebuah pagi. saat desau anak-anak pelangi merantaui dinding langit beku, menyisakan larik lanun yang terhempas dari tangan matahari. /II/ fajar adalah serupa nirwana yang hadir dari tiap lelembar pagi, ia mencipta ribuan cita dari balik geribik tua –tempat kita menanam rindu, dari bebutir padi yang tercipta saat jerit menjarit purnama yang perlahan tenggelam. /III/ Zhang Da, beribu kami hidup dari tangan mungilmu, seperti isyarat yang kueja dari tatapan matamu: pilu . Saat sungai mengalirkan remah sejarah, ada tangan malaikat yang memeluk rapat tubuhmu.disaat senja yang jingga mengantarkan kepergian ibu. tangis yang teramat alit untuk mengecap duka. /IV/ Zhang Da, nanar matamu menujahkan ngilu yang tiada henti. mengaliri sungai kepedihan yang kau airi sendiri dari peluh seluruh. sementara langit seperti tak henti membumikan kepedihan. saat ayah tinggallah pelitamu, menggenang dukamu saat langit memecahkan ringkih ke...

Saat Purnama Menguburi Jasad Kami

  :Karawang-Bekasi matahari terbit dari balik purnama yang tak kumengerti. baru saja, setelah letih senja berdarah. adalah nafas yang menghunjamkan tubuhnya pada tirai-tirai hujan yang kubuka dari tatapan nisan. airmata telah pupus, pada jejantung tanah yang dulu aku rebah. disini: tempat dulu aku meniupkan sangkakala saat genderang mulai menabuhkan tambur kegaiban. saat ribuan bayonet memecah tabu tulang-tulangku, rintihan peluru mendesing tanpa alamat. melesat-lesatkan pada langit yang terkaing, lindap dijantung kami : lalu mati . kami tidak pernah tahu, sejak kapan lahir sebagai pejuang-pejuang yang rela mati untuk tanah air kami, ataupun duka nestapa yang harus kami korbankan. tapi apa? seribu tangis kami tak akan memberi banyak arti bagi bumi pertiwi. Saat kelu darahku, mendesir: mengalir saat purnama mengantarkanku. kudengar tangisan hujan mengenang kepergian kami. di darah ini, kutuangkan beribu duka di darah ini, kualirkan airmata doa. di dar...