Langsung ke konten utama

Postingan

Adu Kreasi lewat Seni

Mahasiswa IPB peserta lomba solo vokal sedang unjuk kebolehan di ajang Fateta Art Contest 2012 Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor menggelar acara Fateta Art Contest 2012 (FAC). Kegiatan yang juga dimotori oleh BEM Fateta ini dilangsungkan selama 2 pekan. Yakni pada Minggu (18/11) dan pada tanggal (25/11) pada malam anugrah. Acara ini diikuti 242 mahasiswa. Sebagai upaya dalam menyaring bibit-bibit unggul mahasiswa dalam bidang seni. Dwi Pamungkas Bermani, ketua pelaksana FAC mengatakan bahwsannya acara ini juga sebagai wahana menyalurkan mahasiswa dalam bidang nonakademis. “Dengan demikian potensi mereka dapat tersalurkan melalui acara ini” tukas mahasiswa Teknik Mesin Biomassa, Fateta ini. Adapun cabang perlombaan pada ajang FAC ini antara lain lomba  teater, akustik, vokal grup, solo vokal, musikalisasi puisi, tulis puisi, tulis cerpen, perkusi, video klip cover, fotografi, karikatur, desain poster dan fun cooking. “Kami BEM Fa...

Kopi dan Segelas Kehangatan Itu

Dinding langit tak terkunci. Serupa isyarat bagi langkah kami untuk pergi. Hujan merayakan kesedihannya sendiri. Tak terperi. Ada kalanya kita bersembunyi, di denting gelas. Tempat terakhir kita bermuara, tempat akhir kita berjumpa. Kudengar, riuh orang-orang bercengkrama. Tapi aku sepi. Tubuhku gigil sendiri. Hujan di luar sana semakin memburu. Segelas kehangatan itu tiba, seratus delapan puluh mili air mengepungnya, melebur menjadi satu ramuan istimewa. Teman yang pas, saat hujan menjumpaimu. Ia mengepul, asap putih khasnya mengembun di dinding gelas, lamunanku tiba-tiba terhenti. Pada satu dimensi.   “Apakah kau percaya tentang cinta?” tanya gelas kepada sang kopi itu “Bukankah, dia akan ada, saat semuanya terasa saling melengkapi”  tutur sang kopi “Ada kalanya, melengkapi pun saling tak mengerti” “Itu bagi kamu, yang menghadapinya dengan tergesa” “Maksudmu?” “Dengar degup ini, cinta tak perlu memilih” “Dia akan tahu kemana harus berlabuh”  ...

Tantangan Menulis Puisi Prosais : Ulasan Puisi Syahrizal Sidik

oleh : Jamal D. Rahman* Jejak Cahaya Malam Nuzulul Qur’an               kepada : malam Nuzulul Qur’an /i/ di riak jingga airmata jiwamu, berurai namamu memanjang seperti gemericik hujan yang jatuh kedalam rongga tabah tubuhku yang rubuh. lalu, menghampiri  jemari. memantik di dingin sunyi yang memapah deru paru. /iii/ adalah cahaya sunyi di dingin itu, ketika  kakilangit menjejak langkah di dekap sujudku yang rapat. memahat lekat ayat-ayat suci, terpatri erat mengakar. lindap didegup jantung, darahku kaku. kelu. /iii/ sudah kutahu cerita tentangMu. malam begitu beku, meniris  gerimis. jatuh diatap-atap bumi yang meratap. senyap. /iv/ jauh sebelum itu, bumi seperti rerengkuh angkuh, senjakala tiada. lembayung terpasung dikais dera tiada tara. angin mati, mendesahkan resah di malam itu. /v/ dikedamaian suatu ketika, malaikat turun kebumi, memapar kabar. lauh mahfudz menyala ...

Diam

Malam memuram. Diammu menginfeksi udara dan membuat dunia sungkan bersuara. Dunia 4 x 6 meter tempat kita duduk berdua. Lenganmu kautarik menjauh untuk merengkuh dirimu sendiri. tidak apa-apa. Aku mengerti. Duka membuatmu demam, dibuka kedinginan tapi dibungkus dua pasang lengan bikin kamu keringatan. Bukan berarti saya tidak butuh kamu, dulu sekali kamu memperingatkan. Aku mengerti. Kesedihan selalu membawamu pulang ke rahim ibu tempat engkau meringkuk nyaman sendirian padahal tidak. Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Tapi kamu mendamba rasa sendiri itu. Diammu memapahku ke ujung pertahanan. Dan akhirnya kuterdesak oleh hampa. Tak satu pun boleh menodai diammu. Telan napas itu. Bungkus dan simpan di kantong untuk nanti dilarutkan di sungai. Lamat-lamat, suara ramai membubung, merubung dunia 4 x 6 tempat kita duduk berdua. Kudengar gerundel, kudengar gerutu, terkadang batuk, decak lidah, hingga teriakan yang membuatku gemetar. Terakhir, terdengar isak pel...

Dan Langit pun Menghitam

        :  Peristiwa Semanggi,  Mei 1998. / 1. / tak ada anyir yang paling darah tumpah. di gelap bulan raja-raja. tegap raga kami, menghantam deru senapan. sebab, sembab hanyalah kepulangan. beri kami seribu nyawa, biar tuntas, segala tugas. kami singsingkan lengan baju, bertaruhkan nyawa. /2./     keterasingan di lengkung lembayung murung memburu langkah. udara membatu,  melimpahkan kelu pada derit langit yang sakit. megak rajam tangannya mengikis. ribuan hujan peluru menyerbu langit pertahanan. “kami hanya berorasi, menuntut para janji” teriak mahasiswa barisan-barisan kami, adalah tubuh tanpa daya. tanpa senjata. pagar-pagar lengan kami bersatu. lumpuh, ditikam seribu pasukan berseragam. martir, desing peluru, gas air mata, jerit-jerit melepas ke langit. mereka menyoraki bangga, melumpuhkan ribuan barisan kami. empat syuhada, berpulang. luka tembak, bersarang di dadanya. “maafkan kami, bu….”...

Hujan Turun Sepanjang November

Hujan Turun Sepanjang November gugur daun jambu, melulu pergi sendiri.  hujan rintih-rintih jatuh menjauh.  menikam deras ke lepas segala cuaca.  ada langkahmu : tertahan di sana  di antara gugur yang semakin sendiri menjauh dari pergi.  November, 2012 Oktaf suaraku melayang hilang. deras menikam jantung cuaca sebaris lagu di tubuhku, hampa menghunus mantra : memerdu lagu sendiri. denyar  mengendap-endap menjadi ribuan sunyi paling puisi di  karang-karang hempas gelombang November, 2012 Melulu Puisi Datang Padamu menjelang petang kembali datang. separuh puisi redam menembus sepi. adakah kau datang sebelum gelap itu mengerjap -- berkeredap di tikaman waktu -- tempat dahulu memerdu lagu. kaki-kaki waktu tajam menancap. di atas mata waktu yang berpahat, begitu kuat.   melulu puisi datang padamu. adakah separuh ragamu ada  di baris-baris sepi yang kutulis sendiri. adakah kau percaya...

Komentar-komentar tentang Dari Negeri Hujan

@jenifercindy_ : Hope your dream comes true. As soon as possible :D @faikafadiloong : #DariNegeriHujan nya kece badai kak :) @Ridhafirsa   : Kalo ijang yang nulis mah pasti emejing semua. Tapi kenapa namanya dari negeri hujan? istimewa banget emang hujan? @falashifah92 : Paling suka yang bagian di tilang polisi. Aku juga suka Flashpoemnya :D @novasinayla : Kereen! harus baca :) @popyfufu : Pengen punya bukunya :D @dahliaekasukmawati : Waah, harus baca dan minta tanda tangan sekarang, sebelum nanti terkenal :)  @donyph : Di usia yang masih muda, Syahrizal mampu menulis sajak sebagaimana sajak yang dituliskan penyair pada umumnya. Hebaat! saya suka  @yudirsuhaedir : Di dalam sajak ini, kita masih menemukan ke akuan. Tapi, Syahrizal mampu mengangkat ke akuan tersebut secara universal. Tidak subjektif. Selamat! @fasharouf : Diantos terbit bukunya Kang :D @kartinifastuti : Membaca penuh kejutan! Seindah sajak-sajakmu, penyair...