/I/ setelah habis misa Natal, aku kembali. menjelma pedih, luruh dalam lukalukaku yang belum usai. ada purnama yang tenggelam, disikap redup lentera dilenganku. mataku terlalu tirus untuk menyeka airmata yang mengairi kepergiannya, setahun yang lalu. sepertiga kenangan telah lama memupuri retak tanah ini. /II/ ini kali terakhir aku mengenangnya kembali. setelah sekian pahit kita reguk dengan bilur yang tak henti menepi. adalah semata takdir yang lahir dari rahim tangisnya. kini, saat sakit seperti para pembezoek yang menghampiri. ada saat waktu yang paling nisbi menjadi rajam anganku. /III/ aku kembali ke mata lindu yang menujahkah ngilu, tiada henti seperih mati yang menjejak-hentakkan harapannya yang selalu sirna. saat lentera padam, tiba tiba seperti ladam yang menghunjam tubuhku. ini kali terakhir kutatap utuh tabah tubuhku di ujung figura yang kerap ibu simpan di hati kami yang lirih. /IV/ aku sedang mendayungkan seruap sampan harapan, dengan...
We write to taste life twice, in the moment and in retrospect. —Anaïs Nin