Langsung ke konten utama

Postingan

Raih Kirjas Award, Kini Melaju ke ISPO 2013

Laporan: SYAHRIZAL SIDIK Sore itu, Selasa (12/2), di Laboratorium Kimia MAN 2 Kota Bogor, Tiara Fitri Maghfira sedang menguji karya ilmiahnya, ia tampak sendirian, kendati deras hujan terus turun.   Namun, ia harus tetap fokus dengan praktikumnya. Dia, adalah salah satu dari 4 orang perwakilan MAN 2 Kota Bogor yang berhasil menjadi finalis pada ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2013 belum lama ini. Dua tim MAN 2 Kota Bogor, yang berhasil meraih finalis ISPO 2013, adalah tim Biopestisida, yang beranggotakan Ina Andriani dan Zahrah Qolbaina. Dengan karya "Aplikasi Limbah Cair Tapioka terhadap Hama Ulat Gerayak ( Spodoptera litura) pada tanaman Pakcoy ( Brassica rapa L). Adapun, tim kedua adalah tim Bioplastik, dengan anggota Tiara Fitri Maghfira dan R. Nabilah Fahrani, dengan karyanya, Produksi dan Karakterisasi Plastik Biodegradabble berbasis Pati Bonggol Pisang, Styrofoam menggunakan metode casting solution. Mereka dibimbing secara langsung oleh guru...

Memotret Jogja, Melihat Kita

di yogya aku lelap tertidur angin di sisiku mendengkur seluruh kota pun bagai dalam kubur pohon-pohon semua mengantuk di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk kemanakah harus kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga? (Emha Ainun Nadjib: Antara Tiga Kota) Petikan sajak tersebut mengingatkan saya, tentang perjalanan semasa berada di Yogyakarta. Betapa kota ini (red. Yogya) tidak asing melahirkan banyak seniman, penyair, budayawan, pelukis, penulis, penyanyi, hingga penari. Tiga hari berada di Yogyakarta, saya – bersama teman-teman – berangkat pada 3 Januari 2013. Kali ini, tidak lagi membahas mengenai trip selama perjalanan, tapi mencoba mengangkat mengenai pesona Yogyakarta di balik lensa. Di dalamnya, selama tiga hari tersebut, saya menemukan banyak keunikan, hal-hal yang saya tidak temui di kota kelahiran. Hal-hal yang membuat terkadang kita ingin menyelami dan mendalami keindahan dan keramahan kota buday...

Aviasi

 Aviasi di Lempuyangan, Yogyakarta | Photograph by Syahrizal Sidik   Waktu di mana akan membawamu bergerak Dia yang   menunggu datangmu berdetak Bukankah hidup ini adalah segmentasi? Tempat di mana Dia membagi potongan-potongan cerita dalam hidup ini yang nisbi, lalu semuanya akan tertulis secara pasti. Di antara bagian itu, bukankah semuanya sudah teryakini bahwa hidup akan selalu berotasi, ada rendah   dan ada yang tinggi. Lihatlah sejenak, ke luas langit dan segenap fajar cahaya. Bukankah dia tak diminta untuk dikalkulasi, tentang seberapa sering   menerangi dan melindungi bumi? Bukankah dia juga tak diminta sedetik dan sedetak pun untuk pergi saat kau sungguh tak peduli. Ada saat-saat di mana manusia terlena akan mimpinya. Di saat meninggi, kau akan terpedaya dengan angan-anganmu setinggi langit, di atas itu kau kencangkan keangkuhan, arogansi diri yang membuatmu percaya, kau adalah ada seperti dirimu dengan segala keakuanmu. Di saat...

Antara Pro dan Kontra RSBI

Karikatur ilustrasi tentang sekolah berstatus RSBI karya @fjarkun Pernyataan mengejutkan bagi insan pendidikan datang dari Mahkamah Konstitusi RI, pasca putusan penghapusan RSBI bagi sekolah-sekolah yang ada di lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menuai banyak pro dan kontra. Alhasil, sekolah yang menyandang nama RSBI harus segera diganti, program-program yang dijalankan di RSBI di seluruh Indonesia pun tidak boleh berjalan sebagaimana mestinya,   apabila melanggar, maka termasuk perbuatan ilegal dan melanggar hukum, bahkan terindikasi perbuatan korupsi. Pertama, sebagai insan pendidikan, seharusnya kita harus legowo dan menyikapinya dengan kepala dingin dan senantiasa berpikir jernih. Tidak harus menganggapinya secara berlebihan. Kenapa demikian? Karena, bukan tanpa alasan MK membuat kebijakan penghapusan tersebut. RSBI, dipandang cenderung mengarah pada diskriminasi pada dunia pendidikan nasional, antara golongan orang yang mampu secara finansial ...

Cerita-cerita dari Yogyakarta

Berpose di Parangtritis Hari pertama, 3 Januari 2013 Kami berenam para backpacker siap menaklukkan Jogjakarta!   Aku, Arief, Kak Yana, Kak Khalid, Kak Adit, dan Kak Arief Bermula berkumpul di Stasiun Bogor pukul 13.00, dan ternyata saya datang paling pertama, jadi terpaksa deh menungu manusia-manusia ngaret! haha. 14.05 kereta commuter line tujuan Jatinegara pun diberangkatkan dari Stasiun Bogor. Perjalanan memakan waktu 2 jam,   kita turun di Jatinegara, jalan kaki transit menuju Stasiun Pasar Senen. Dan, langit mulai gerimis. Kita terus melaju… Para backpacker... Pasukan Masjid Mungkin begitulah kira-kira aku menyebutnya. Haha setiap ada jeda waktu istirahat, apalagi waktu shalat, kami selalu memburu masjid. Satu, di antara keuntungannya yang   bisa shalat tepat waktu juga bisa jadi tumpangan gratis buat rehat dan bisa pipis gratis. Hehehe. Maklum, perjalanan panjang nan melelahkan menuju kota Budaya sudah tampak di depan mata. Seperti yang ter...

Blur

Image taken from facepunch.com "Di titik terjauh, kau selalu menjelma bayang-bayang yang redup lalu terang.   Tiba-tiba muncul, dan lekas menghilang. Bayanganmu itu, selalu membekas di retinaku." 23. 00 WIB di tempatmu Malam memuram. Gurat wajahmu masih menyimpan sejuta tanda tanya. Setiap malam adalah keterasingan.   Di sini. Ingin kuteriakkan padamu tentang keraguan itu. Kau menyimpannya, di setiap bangun dan lelap harapanmu, di situlah aku ada. Saat sedu sedan, selalu berjalan berdampingan. Kamu di mana? 24.00 WIB di tempatmu Blur. Kita menyeka jendela kaca itu rapat-rapat. Gerak tanganmu mungkin masih seperti dulu. Pelan, mataku mengabur. Minus ini semakin meredupkanku. Entah. Mungkin untuk ke sekian kalinya, bayang-bayang itu. Selalu menemuiku. Di titik terjauh, kau selalu menjelma bayang-bayang yang redup lalu terang.   Tiba-tiba muncul, dan lekas menghilang. Bayanganmu itu, selalu membekas di retinaku. Di titik terdekat, aku menemukan sega...

Berseni dari Hati : Catatan pementasan

 Photograph by Syahrizal Sidik Dwiyoso, menampilkan pementasan teater yang diadaptasi dari cerpen Kurma Kiai Karnawi karya cerpenis Agus Noor, Sabtu (16/12) di Auditorium FKIP Universitas Pakuan Bogor. Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan—astagfirullah—puluhan paku berkarat menyembul dari...